ANTARA GUS DUR DAN IMLEK

Postingan ini ingin mengenang Gus Dur ( Presiden K.H. Abdurrahman Wahid) sempena perayaan Imlek.

 

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada masa orde baru (rezim Presiden Soeharto) bukan hanya perayaan Imlek saja yang dilarang dilakukan terbuka. Bahkan semua kebudayaan Cina juga dilarang ditampilkan di depan umum.

ANTARA GUS DUR DAN IMLEK

LampioN Imlek (ilustrasi google dari http://style.tribunnews.com)

SEJARAH IMLEK DI INDONESIA

Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek secara terbuka, namun membolehkannya secara tertutup pada acara keluarga. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek)

Bahkan justru waktu itu (sekitar tahun 1966 – 1967) ada orang Tionghoa sendiri yang mengusulkan larangan total untuk merayakan Imlek, adat istiadat, dan budaya Tionghoa di Indonesia kepada Presiden Soeharto. Dia adalah Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay.

Namun, Presiden Soeharto merasa usulan tersebut terlalu berlebihan, dan tetap mengizinkan perayaan Imlek, adat istiadat, dan budaya Tionghoa namun diselengarakan hanya di rumah keluarga Tionghoa dan di tempat yang tertutup. Hal inilah yang mendasari diterbikannya Inpres No. 14/1967.

Tahun itu pula dikeluarkan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967 dan Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 286/KP/XII/1978 yang isinya menganjurkan bahwa WNI keturunan yang masih menggunakan tiga nama untuk menggantinya dengan nama Indonesia sebagai upaya asimilasi. Hal ini didukung pula oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB). LPKB menganjurkan keturunan Tionghoa, antara lain, agar :

– Mau melupakan dan tidak menggunakan lagi nama Tionghoa.
– Menikah dengan orang Indonesia pribumi asli.
– Menanggalkan dan menghilangkan agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa, termasuk bahasa

Beruntunglah saudara-saudara kita suku bangsa keturunan Tionghoa dengan adanya GUS DUR. Beliau adalah Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, yang mencabut Inpres nomor 14 Tahun 1967.

Beliau menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Kemudian pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003. (https://www.tiknan.com/2018/02/catatan-riwayat-imlek-di-indonesia.html)

Maka Gus Dur sangat berjasa bagi peradaban Indonesia modern. Dengan tindakan tersebut maka pluralitas bangsa sebagai satu kenyataan empiris kembali dihormati. Maka sudah sepantasnya Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sekaligus Pahlawan Kebinekaan Bangsa.

Baca juga artikel terkait kebangsaan : https://www.sekarhusada.com/blog/merah-putih-falsafah-dasar-leluhur-nusantara/

 

Salam, Tiknan Tasmaun

Tentang Tiknan Tasmaun

Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di RT 13 / RW 07, Sawo, Dukun, Gresik. Hp. 085850960090.
Tulisan ini dipublikasikan di UMUM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *