MERAH PUTIH : Falsafah Dasar Leluhur Nusantara

Merah putih : falsafah dasar leluhur nusantara. Merah Putih bukan sekedar warna yang sekedar ‘kebetulan’ dijadikan warna negara kita tercinta. Namun Merah Putih mempunyai falsafah dasar yang mengakar pada budaya leluhur bangsa ini. Kali ini penulis membahas mengenai merah putih mengandung falsafah dasar leluhur nusantara, makna merah putih dalam kepercayaan kejawen, filosofi bubur sengkolo  dan makna merah putih dalam bendera NKRI.

Merah putih : falsafah dasar leluhur nusantara

Jauh sebelum Indonesia merdeka, panji-panji nusantara adalah Sang Merah Putih. Pada zaman majapahit dahulu kalapun panji dan umbul-umbul (bendera) kerajaan Majapahit adalah Sang Panji Dwi Warna atau Sang Panji Gula-Kelapa, yaitu warna merah putih. (Lihat : https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit).

Merah putih : falsafah dasar leluhur nusantara

Bendera Majapahit (sumber :wikipedia)

Merah Putih mempunyai nilai filosofis yang mendasar bagi leluhur nusantara ini. Ini berkaitan dengan nilai hidup, kepercayaan ketuhanan, dan nilai-nilai dasar manusia.

Makna Merah Putih Dalam Kepercayaan Kejawen

Merah adalah perlambang ‘tempat hidup’ alias dunia nyata sedangkan putih adalah lambang ‘isi hidup’ atau sisi ruhani manusia. Merah adalah lambang ibu sedangkan putih adalah lambang ayah. Hal demikian karena mengambil dari terjadinya ‘wujud’ manusia di sunia ini yaitu ‘darah putih’ dari ayah yang kemudian berpadu dengan ‘darah merah’ dari ibu yang kemudian berwujud jabang bayi.

Hal demikian bisa diterangkan demikian. Secara filosofi masyarakat Jawa sejak dahulunya telah meyakini akan adanya ‘Kuasa’ yang mengatasi segala sesuatu. Penyebutan ‘Sang Kuasa’ ini banyak ragam. Ada yang menyebut ‘Sing Gawe Urip’ ( Yang menguasai kehidupan – yang menciptakan kehidupan’ ), ‘Kang Moho Kuwoso’ ( Yang Maha Berkuasa ), ‘Sang Hyang Moho Dewo’ (Sang Maha Dewa) dan masih banyak jenis penyebutan lainnya. Hal demikian telah ada pada masyarakat Nusantara secara khususnya masyarakat Jawa kuno jauh sebelum agam Hindu dan Buda masuk tanah Jawa. Ada sebagian peneliti yang menyebut kepercayaan asli orang Jawa ini dengan nama ‘agama’ KAPITAYAN. Kepercayaan dan filosofi akan adanya ‘Yang Maha Kuasa’ tersebut kemudian mendapat bentuknya lagi setelah adanya pengaruh agama – agama yang silih berganti masuk dan dianut oleh masyarakat Jawa.

Salah satu sikap dalam memposisikan diri untuk ‘kembali’ kepada fitrah dan ‘kembali’ kepad Tuhan YME diwujudkan oleh masyarakat Jawa dalam bentuk simbol selamatan bubur sengkolo atau merah putih ini. Hal tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan kembali kepada asal-muasal manusia yang diciptakan oleh Allah dari sari pati bumi melalui ‘darah merah’ Ibu  dan ‘darah putih’ Ayah sebagai perantaraan wujudnya di dunia ini.

Filosofi Bubur Sengkolo

Filosofi Bubur Sengkolo

Bubur Sengkolo ( sumber : food.detik.com)

Hampir di tiap upacara adat selamatan adat Jawa selalu menyertakan yang namanya ‘BUBUR SENGKOLO’ yaitu bubur beras yang dicampur gula merah dengan sejumput parutan kelapa di atasnya. Bubur ini sering disebut sebagai bubur merah putih karena berwarna merah ( bubur beras yang dicampur gula merah) dan warna putih (parutan kelapa).

Ada juga yang menyajikan dalam bentuk sepiring bubur beras dengan campuran gula merah disandingkan dengan sepiring bubur beras putih saja. Intinya sama saja, yaitu sajian bubur yang berwarna merah dan putih. Tentu hal ini juga, suatu yang saya yakin bukan semata kebetulan, mengingatkan akan warna bendera nasional Indonesia yaitu Merah Putih.

Dalam pelaksanaannya memang bubur ini tidak disajikan ‘hanya sendirian’ saja. Tentu masih banyak jenis makanan lainnya. Biasanya terdiri dari tumpeng (nasi yang disajikan dalam bentuk gunungan / kerucut ), lauk-pauk, jajan pasar dan lainnya. Kali ini penulis ingin menyoroti khusus mengenai bubur sengkolo atau merah putih ini.

Makna Bubur Sengkolo

Dengan demikian selamatan bubur sengkolo merah putih juga dimaksudkan sebagai ungkapan doa ‘penyerahan diri’ kepada Tuhan untuk memohon keselamatan dan keberkahan karena meyakini bahwa pada asalnya manusia tidak mempunyai daya kekuatan apa-apa, hanya sebentuk darah merah dan putih. Hanya karena kuasa Allah semata-mata yang menciptakan dan memberi hidup dan penghidupan kepada manusia.

Maka selayaknya segala sesuatu dikembalikan kepada-Nya. Hal ini seiring dan selaras dengan filosofi yang ditekankan Islam bahwa segala sesuatu itu pada hakekatnya ‘Laa haula wa laa quwata illa billah’ tiada pertolongan dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan dan kekuatan Allah semata.

Upaya doa yang dibarengi atau bahkan diwujudkan dalam bentuk lambang selamatan tersebut bisa diterima dan dilestarikan oleh kalangan sebagian masyarakat muslim hingga sekarang. Bahkan hal tersebut diterima sebagai do’a bil isyaroh, yaitu upaya doa yang direalisasikan dalam bentuk perlambang untuk meneguhkan dan menguatkan ‘pengharapan’ akan keyakinan terhadap dimakbulkannya doa tersebut.

Pada sisi lain, upaya atau ikhtiar bathiniah yang berupa selamatan atau do’a bil isyaroh tersebut biasanya sangat mustajab atau sangat mudah untuk berhasil. Hal ini sangat masuk akal. Karena apa ? Tidak lain adalah karena selamatan tersebut juga mempunyai beberapa nilau plus yang sangat terpuji dan bermanfaat. Antara lain adalah selamatan tersebut merupakan salah satu bentuk ‘shodaqoh’ yang amat nyata.

Sedangkan beberapa nilai tambah lainnya adalah : menguatkan tali silaturhim antar tetangga dan sanak famili dan juga doa bersama atau jamaah. Sehingga sangat masuk akal jika upaya atau ikhtiar ini sangat mudah diijabah oleh Allah sehingga berhasil apa yang dihajatkan. Wallhu a’lam.

Makna Merah Putih Dalam Bendera NKRI

makna merah putih dalam bendera NKRI.

Bendera Merah Putih

Sudah menjadi pengetahuan kita semua bahwa warna merah pada bendera kta melambangkan keberanian sedangkan putih adalah kesucian atau kebenaran. Maka bisa diungkapkan bahwa makna merah putih dalam bendera kita adalah berani karena benar.

Sekian kiranya bermanfaat.

Baca artikel terkait :

Herbal Obat Utama Bukan Alternatif

 

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Tentang Tiknan Tasmaun

Praktisi Pengobatan Herbal / Alternatif. Tinggal di RT 13 / RW 07, Sawo, Dukun, Gresik. Hp. 085850960090.
Tulisan ini dipublikasikan di FILSAFAT PERENUNGAN, UMUM dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke MERAH PUTIH : Falsafah Dasar Leluhur Nusantara

  1. Ping-balik: ANTARA GUS DUR DAN IMLEK - SEKAR HUSADA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *